Ngejalang merupakan tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Lampung Pesisir barat pada saat lebaran Idul Fitri. Tradisi ngejalang juga diikuti oleh masyarakat Lampung pesisir yang tinggal diluar kabupaten Pesisir Barat.
Ngejalang biasanya terbagi dua yaitu : Ngejalang Pangan dan Ngejalang Kubokh. Ngejalang Pangan yaitu suatu acara berdoa bersama di mesjid yang dilakukan setelah hari raya Idul Fitri. Acara ini bertujuan untuk menjaga kesatuan dan persatuan masyarakat.
Ngejalang Kubokh yakni acara silaturahmi, berdoa bersama-sama dalam rangka mengirim doa terhadap arwah nenek moyang, yang dilakukan di area kuburan setelah hari raya Idul Fitri. Perbedaan antara Ngejalang Pangan dan Ngejalang Kubokh adalah dari segi waktu mengirimkan doa, pelaksanaan acara, dan undangan yang menghadiri dua acara tersebut. Persamaannya adalah memiliki nilai kearifan lokal yakni silaturahmi
Ngejalang Kubokh adalah acara silaturahmi dan berdoa bersama di area kuburan yang dilakukan setelah Idul Fitri (Syawal). Ngejalang Kubokh digunakan dalam rangka mengirim doa terhadap sanak saudara atau keluarga yang telah meninggal dunia, halal bihalal, dan saling mendoakan antara keluarga yang masih hidup dan memperkuat rasa solidaritas masyarakat.
Ngejalang kubokh atau ziarah kubur merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh masyarakat menjelang hari raya Idul Fitri. Keluarga besar ahli waris dari keturunan Saibatin daerah tersebut, yang berada di suatu kompleks pemakaman mengundang saudara dari kampung tetangga untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal.
Undangan berkumpul di suatu lokasi baik masjid atau lapangan yang telah dipasang tenda. Selain sebagai acara ziarah untuk mendoakan dan menghormati para leluhur acara ini juga sebagai salah satu ajang berkumpul bagi masyarakat, sebagai momen yang tepat untuk bertemu dan silaturahmi antarwarga, karena pada acara lebaran mayoritas warga masyarakat yang pergi merantau akan pulang ke kampung halaman, kegiatan tradisi menjadi momen yang dirindukan mereka.
Acara silaturahmi ditandai dengan acara makan bersama, sajian makanan yang sudah disediakan di dalam pahar. Dalam kegiatan tersebut, pemuka adat dari tiap-tiap kampung menyampaikan pantun berisi petuah agama.
Tradisi Ngejalang ini banyak dilakukan masyarakat pada berbagai pekon dan tradisi nya berbeda-beda. Ada yang melakukan Ngejalang Kubokh pada H+1 lebaran, ada yang melakukan waktu lebaran hari ke 1-3 Syawal. Pengerjaannya juga berbeda-beda. orang-orang yang punya ahli kubur (keluarga yang telah ditinggalkan) dipemakaman itu bermusyawarah untuk mengadakan Ngejalang, sehingga dimusyawarahkan untuk menentukan hari baik itu Ngejalang Pangan maupun Ngejalang Kubokh.
Lokasi biasa dilakukan di kuburan dan makan-makan diatas kuburan. Ahli kubur atau keluarga yang ditinggalkan ikut bermusyawarah untuk menentukan hari, dan tempat kemudian siapa saja yang harus diundang. Ditentukannya acara dari mulai yang bertugas menjadi MC, ketua panitia, sambutan ahli waris dan seterusnya sampai di pemimpin acara doa. Setelah ada panitia untuk menentukan hari H, baru satu hari sebelum hari H di mulai seluruh panitia berkumpul dan seterusnya sampai di pemimpin acara doa.
Satu hari sebelum hari H di mulai seluruh panitia berkumpul untuk menata lokasi dan membikin Kalasa di kuburan sehingga satu hari sebelum hari H lokasi untuk Ngejalang Kubokh sudah siap segala macam pernak perniknya. Untuk Ngejalang Pangan diadakan dimasjid. Keesokan harinya semua panitia hadir dan semua ahli waris yang ada dipemakaman umum itu membawa perlengkapan untuk Ngejalang salah satunya yang wajib harus ada yaitu kasur.
Kasur digelar kemudian Pahar (semacam nampan yang terbuat dari aluminium sebagai tempat untuk menata kue atau snack) disajikan, kemudian dibariskan di sela-sela kasur ditempat duduk yang kiri dan kanan
sumber (akun Facebook Abdulah Ali)









Leave a Reply