Nomor registrasi 2022011639
SALIMPOK BUNGKING secara etimologi berasal dari dua kata yakni salimpok dan bungking, selimpok sendiri dalam bahasa Lampung memiliki arti :sesuatu yang dibungkus, yang dalam hal kali ini dibungkung menggunakan daun pisang, sementara bungking sendiri memiliki arti sesuatu yang mengerucut dan padat, secara keseluruhan salimpok bungking bisa diartikan sebagais sesuatu yang padat dan dibungkus secara mengerucut.
Salimpok bungking adalah makanan ringan yang kaya akan serat, biasanya disajikan bersama secangkir teh atau kopi yang biasanya dimakan pada saat pagi dan malam hari hari. Salimpok bungking terbuat dari bahan-bahan alami pilihan, tanpa bahan pengawet, dan tanpa penambahan pewarna.

Salimpok bungking adalah salah satu makanan tradisional khas Kabupaten Pesisir Barat dan tidak ada di tempat lainnya. Makanan ini biasanya disajikan dalam acara adat seperti acara penayuhan (pernikahan adat) di masyarakat Pesisir Barat. Makanan ini dihidangkan dalam rangkaian penayuhan seperti dalam himpun muakhi, himpun balak dan hari penayuhan. nilai budaya terkandung dalam Salimpok bungking adalah :
Pertama: Sebagai upaya mempererat rasa kebersamaan dan kekeluargaan, hal ini tercermin dari keikut sertaan setiap anggota keluarga dan handai taulan dalam proses pembuatan selimpok bungking tersebut, mulai dari pengambilan daun pisang yang akan dijadikan sebagai pembungkus, penjemuran dan pemotongan daun pisang hingga siaap dijadikan sebagai bungkus, pengolahan ketan, pemarutan kelapa, gula merah dan tentu saja proses pembungkusan dan pengngukusannya sendiri yang memerlukan ketelatenan dan kesabaran.
Kedua : Beras ketan yang dalam bahasa lokal dikenal dengan nama siwok sebagai bahan utama pembuatan kudapan ini memiliki tekstur yang lembut dan lengket ketika dimasak, ini merupakan simbol kerekatan persaudaraan antar sesama tanpa membeda-bedakan status sosial dan sebagainya.
Hal ini seperti yang dikatakan salah satu praktisi kuliner Indonesia bahwa ketan yang dihidangkan merupakan simbol kerekatan antar sesama, ia tidak memandang bulu, siapapun yang ada disekitar disebut sebagai saudara,saling erat berpegang, tidak peduli miskin atau kaya.
Gula merah (gula aren) dan kelapa parut sebagai bahan baku pembuatan salimpok bungking juga memiliki nilai filosofi dimana gula merah tersebut melambangkan sesuatu yang manis (indah) dan kelapa memberi rasa gurih, sehingga diharapkan siapa saja yang mengkonsumsinya akan mendapatkan keindahan dan keharmonisan dalam kehidupan. Begitu juga dengan pisang sebagai bahan baku pembuatan selimpok bungking, selain memiliki tekstur lembut dan lengket, pisang juga memiliki cita rasa yang manis dan harum.
Sumber (Akun Facebook Abdulah Ali)










Leave a Reply